PADANG | amanatnews.com – Persoalan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Sumatera Barat kembali menjadi sorotan. Ketua Komisi IV DPRD Sumbar, Muzli M. Nur, mendesak Gubernur Sumbar segera membentuk satuan tugas (Satgas) atau tim pengawasan terpadu untuk mengawasi distribusi BBM subsidi jenis Bio Solar yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Desakan tersebut disampaikan Muzli menyusul laporan antrean kendaraan yang mengular hingga mencapai sekitar satu kilometer di beberapa SPBU. Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung terhadap sektor transportasi, distribusi logistik, dan perekonomian daerah.
“Antrean solar sudah sangat memprihatinkan. Pemerintah provinsi harus segera membentuk tim pengawasan terpadu yang melibatkan aparat penegak hukum, Dinas ESDM, Pertamina, serta pemerintah kabupaten dan kota untuk memantau aktivitas distribusi BBM subsidi di SPBU,” tegas Muzli, Sabtu (6/6).
Ia menilai pengawasan yang lebih intensif diperlukan untuk memastikan distribusi solar subsidi berjalan sesuai aturan dan tepat sasaran. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut karena berdampak luas terhadap masyarakat dan dunia usaha.
Temukan Indikasi Penyimpangan
Muzli mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan bersama sejumlah pihak, ditemukan indikasi penyimpangan dalam distribusi BBM subsidi di beberapa SPBU. Salah satu modus yang disorotinya adalah penggunaan kendaraan yang sama dengan nomor polisi berbeda untuk memperoleh solar subsidi secara berulang.
Selain itu, masih ditemukan dugaan praktik penjualan BBM subsidi secara eceran yang dinilai turut memperparah kelangkaan dan panjangnya antrean di lapangan.
“Ada kendaraan yang fisiknya sama, tetapi menggunakan pelat nomor berbeda-beda saat mengisi solar. Praktik seperti ini harus ditindak tegas karena merugikan masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Angkutan Umum dan Logistik Harus Diprioritaskan
Komisi IV DPRD Sumbar juga meminta pemerintah dan Pertamina memberikan prioritas kepada kendaraan angkutan umum serta truk pengangkut logistik yang sangat bergantung pada solar subsidi untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.
Muzli menyoroti kebijakan pembatasan pengisian solar bagi bus antarkota dan antarprovinsi yang dinilai berpotensi menghambat pelayanan transportasi masyarakat.
“Kalau bus lintas provinsi hanya diperbolehkan mengisi dalam jumlah terbatas, mereka harus kembali antre di SPBU berikutnya. Kondisi ini tentu tidak efektif dan menghambat operasional angkutan umum,” katanya.
Kendaraan Mewah Ikut Menikmati Solar Subsidi
Sorotan lain yang disampaikan Muzli adalah masih banyaknya kendaraan mewah yang memanfaatkan sistem QR Code untuk mendapatkan solar subsidi. Kondisi tersebut dinilai menimbulkan ketidakadilan di tengah sulitnya kendaraan produktif memperoleh BBM bersubsidi.
“Kami masih melihat kendaraan mewah ikut mengisi solar subsidi karena memiliki barcode. Padahal subsidi ini seharusnya lebih diprioritaskan bagi kendaraan produktif yang menopang perekonomian masyarakat,” tegasnya.
DPRD Akan Panggil ESDM dan Pertamina
Sebagai langkah lanjutan, Komisi IV DPRD Sumbar berencana memanggil Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar serta pihak Pertamina untuk membahas secara menyeluruh penyebab antrean panjang dan mencari solusi yang efektif.
DPRD ingin memastikan akar persoalan distribusi BBM subsidi dapat segera diidentifikasi sehingga pasokan solar kembali normal dan mudah diakses masyarakat.
“Kami akan mengundang ESDM dan Pertamina untuk duduk bersama mencari solusi. Persoalan ini menyangkut kebutuhan masyarakat luas dan harus segera ditangani secara serius,” ujar Muzli.
Ia menegaskan Komisi IV DPRD Sumbar akan terus mengawal persoalan distribusi BBM subsidi hingga masyarakat kembali memperoleh akses yang mudah terhadap solar, khususnya bagi sektor transportasi dan logistik yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
“Kita ingin solar subsidi benar-benar tepat sasaran, distribusinya lancar, dan masyarakat tidak lagi menghabiskan waktu berjam-jam mengantre di SPBU,” tutupnya.

