Amanatnews, Agam — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Agam pada Kamis, 11 Desember 2025, menimbulkan dampak besar bagi masyarakat di Kecamatan Palupuh, Matur, Malalak, dan IV Koto. Warga masih merasakan trauma akibat terjangan banjir serta ancaman longsor susulan, sementara akses menuju sejumlah jorong terputus dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Sejumlah warung, jembatan, dan fasilitas warga belum dapat beroperasi karena tertutup material longsor, termasuk di Jorong Koto Rami, Jorong Banio Balirik, dan Jorong Silang Tanang, sehingga distribusi logistik dan pelayanan dasar ikut terhambat.
Laporan resmi mencatat 14 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, dan 6 warga mengalami luka berat. Kerusakan material juga cukup luas, dengan 186 rumah rusak, 1 rumah ibadah, 1 kontrakan, 16 kios, 1 rumah makan, serta 1 unit rumah KM yang mengalami kerusakan. Selain itu, sekitar 16 hektare lahan pertanian terdampak dan 102 ekor ternak dilaporkan hilang atau mati. Kondisi ini membuat kebutuhan mendesak di lapangan semakin meningkat, mulai dari sembako, baby kit, hygiene kit, school kit, relawan, genset beserta BBM, pembalut wanita, MCK darurat, air mineral, hingga hunian sementara bagi keluarga yang kehilangan tempat tinggal.
Menindaklanjuti arahan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat, seluruh respon kebencanaan Muhammadiyah dikoordinasikan melalui Pos Komando Wilayah (Poskor Wilayah) yang dikomandoi oleh Hendri Novigator. Poskor Wilayah ini menjadi pusat kendali operasional seluruh bantuan kebencanaan Muhammadiyah, mulai dari perencanaan, distribusi logistik, hingga pengendalian relawan di lapangan. Sementara itu, MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) berperan sebagai pelaksana operasional lapangan dan mengoordinir seluruh relawan Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Portito, yang aktif melakukan assessment, distribusi bantuan, serta pendampingan warga terdampak.
Dalam mendukung pemenuhan kebutuhan dasar warga, Muhammadiyah mengaktifkan dapur umum yang menyiapkan 375 porsi makanan setiap harinya untuk warga dan relawan. Tim logistik juga menyalurkan beras, mie instan, sayur, serta kebutuhan pokok lainnya ke wilayah terdampak. Selain itu, layanan kesehatan dikoordinasikan bersama Dinas Kesehatan dan puskesmas setempat sehingga pelayanan medis dapat menjangkau 501 jiwa, memastikan kebutuhan kesehatan warga tetap terpenuhi meski akses masih terbatas.
Sesuai arahan PWM Sumbar, seluruh kegiatan fundraising dan pengelolaan donasi berada di bawah Lazismu sebagai lembaga resmi penghimpun dana Muhammadiyah yang dipimpin oleh Zainal Aqil, baik penghimpunan donasi ke dalam maupun ke luar daerah. Ditegaskan bahwa seluruh donasi dan bantuan yang bersifat uang dipastikan satu pintu melalui Lazismu, guna menjamin akuntabilitas, transparansi, dan ketepatan penyaluran kepada masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Agam.
Warga masih merasakan trauma akibat terjangan banjir serta ancaman longsor susulan, sementara akses menuju beberapa jorong terputus dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki. Sejumlah warung, jembatan, dan fasilitas warga belum dapat beroperasi karena tertutup material longsor, termasuk di Jorong Koto Rami, Jorong Banio Balirik, dan Jorong Silang Tanang, sehingga distribusi logistik dan pelayanan dasar ikut terhambat.
.

