Walikota Viman-Wakil Walikota Dicki memimpin Kota Tasikmalaya sudah berjalan 8 bulan terhitung Oktober 2025 sudah mulai tampak melakukan pembenahan baik di tatanan internal birokrasi dengan menempatkan orang orang yang memang sesuai kompetensi masing-masing.
Meskipun sebagian kalangan menyorotinya ada indikasi like dislike-asas kedekatan, tapi biarlah itu menjadi sebuah dinamika dan dijadikan spirit karena nantinya waktu yang membuktikan apakah para kepala dinas atau eselon 2 dapat bekerja dengan baik, sungguh-sungguh, dapat melakukan terobosan terobosan program yang inovatif dan prestisius atau tidak, ini akan menjadi evaluasi tersendiri bagi Walikota Tasikmalaya.
Proses open biding untuk eselon 2 sedang dalam proses tetap harus kita support, cermati dan penilaian publik tentunya sangat dinanti.
Sepanjang ini saya menilai Walikota Viman dan Wakil Walikota Dicky bekerja dengan sungguh-sungguh, idealismenya masih terjaga dengan baik dan semoga tetap terus terjaga, jauh dari kata “bangor” anggaran meskipun kekuasan sedang ada dalam genggamannya saat ini
Sekali lagi citra Viman-Dicky hari ini masih sangat baik khususnya dipusaran rotasi mutasi promosi dan Anggaran Pemerintahan Kota Tasikmalaya, hanya saja pernah muncul rumor yang mengaku tim sukses Viman-Dicky dalam pusaran proyek dan kegiatan di dinas-dinas dengan dalih turut mengeluarkan dana miliaran demi suksesnya Viman-Dicky, terlepas benar atau tidak ini menjadi sebuah deteksi dini bagi Viman-Dicky agar kepemimpinan beliau citranya dapat terjaga dengan baik.
Ini adalah tantangan sangat individu bagi Walikota Viman dan Wakil Walikota Dicky itu sendiri agar tak terjebak pada pusaran Korupsi Kolusi dan Nepotisme, bagaimanapun kekuasan itu sangat menggiurkan dan menjerumuskan.
Kota Tasikmalaya resmi berdiri pada 17 Oktober 2001 berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pembentukan Kota Tasikmalaya di Provinsi Jawa Barat. Pada 17 Oktober 2025 nanti Kota Tasikmalaya akan merayakan Hari Jadi ke-24.
Di hari jadi Kota Tasikmalaya yang ke 24 tahun 2025 ada 2 isu yang harus menjadi perhatian khusus oleh walikota Viman dan Wakil Walikota Dicky sebagai refleksi kedepan, pertama adalah masalah kemiskinan yang prosentasenya masih tinggi 11,10 % dari jumlah penduduk meskipun dari tahun ketahun trendnya mengalami penurunan
Akar penyebabnya harus memang betul betul ditemukan agar tak salah Solusi. Yang dominan penyebab terjadinya kemiskinan di kota tasikmalaya adalah Akses ekonomi / peluang kerja dan usaha masih terbatas meskipun Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tasikmalaya sebesar 76,3 kategori tinggi
Dimana IPM ini gabungan dari Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan dan Indeks Pengeluaran masyarakat Kota Tasikmalaya. Pengangguran di Kota Tasikmalaya menyumbang sebesar 6,49 % dari jumlah penduduk yang rata rata lulusan SMA/SMK/Sederajat, dimana lulusan SMA/Sederajat Tahun 2024-2025 kurang lebih 11.000 siswa/siswi
Dari 11.000 an siswa tersebut setengahnya melanjutkan kuliah. Jadi ada sekitar 6000 siswa lulusan SMA/Sederajat setiap tahunnya di Kota Tasikmalaya tak terdeteksi apakah dia bekerja atau tidak bekerja setelah lulus sekolah.
Hal ini harus menjadi perhatian khusus bagi Pemerintah Kota Tasikmalaya dan memutus mata rantai pengangguran serta kemiskinan, sebagai salahsatu Solusi bagi 6000 siswa siswi lulusan SMA/Sederajat setiap tahunnya yang tidak melanjutkan sekolah, Pemkot bisa hadir dengan melakukan kerjasama dengan Lembaga-lembaga kursus yang prospeknya cukup bagus bagi lapangan kerja, untuk membekali keahlian/keterampilan khusus bagi para siswa yang baru lulus, kursuskan mereka 3 – 6 bulan, anggarannya bisa menggunakan APBD, CSR atau kerjasama dengan Perusahaan.
Kedua adalah isu religiusitas, dimana kota Tasik dijuluki sebagai kota santri Sejak masa Kerajaan Sukapura (abad ke-17 hingga awal abad ke-20)
Tasikmalaya sudah dikenal sebagai pusat penyebaran Islam di wilayah Priangan Timur. Banyak ulama karismatik lahir dan berdakwah di sini, seperti: KH. Zainal Musthafa (pahlawan nasional dari Singaparna), KH. Ruhiyat dan KH. Choer Affandi (pendiri dan tokoh Pondok Pesantren Cipasung), KH. Ahmad Dimyathi (Pesantren Suryalaya), dan banyak lagi.
Dakwah mereka bukan hanya keagamaan, tetapi juga perjuangan melawan penjajahan dan ketidakadilan sosial. Karena itu, masyarakat menilai Tasikmalaya sebagai daerah dengan tradisi keislaman kuat dan basis ulama besar.
Tasikmalaya menjadi salah satu daerah dengan jumlah pesantren terbanyak di Jawa Barat, bahkan di Indonesia bagian barat. Menurut data Kemenag tahun 2024, terdapat lebih dari 1.200 pesantren di wilayah Tasikmalaya (gabungan kabupaten dan kota).
Julukan “Kota Santri” mulai resmi melekat sejak era 1970–1980-an, ketika Tasikmalaya sering menjadi tuan rumah kegiatan keagamaan tingkat nasional seperti MTQ, Musabaqah, dan kegiatan NU.
Julukan “Kota Santri” tidak hanya menunjukkan banyaknya pesantren, tetapi juga mencerminkan Karakter masyarakatnya yang taat beragama, Budaya tawadhu’ (rendah hati) dan berakhlakul karimah,serta tekad untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai dasar pembangunan moral dan sosial.
Maka Pemerintah Kota Tasikmalaya dibawah kepemimpinan Viman-Dicky harus memetakan dan melakukan Langkah terukur dalam rangka pencapaian atau mempertahankan Kota Tasikmalaya sebagai Kota Religius, diantara Langkah tersebut adalah : Pertama Pemerintahan dan Kebijakan Publik dimana Visi-misi daerah memuat nilai religius, Kebijakan daerah berbasis nilai agama (Perda, program moral, zakat, anti maksiat), Integritas dan akuntabilitas birokrasi, Keterlibatan tokoh agama dalam perumusan kebijakan.
Kedua Pendidikan dan Kebudayaan yaitu terintegrasinya nilai agama dalam kurikulum sekolah, Keberadaan pesantren, TPQ, madrasah diniyah, Pembinaan akhlak dan karakter religious, Pelestarian budaya religius dan kearifan local.
Ketiga Sosial dan Kemasyarakatan yang meliputi Keharmonisan antarumat beragama, Aktivitas lembaga keagamaan (MUI, FKUB, DMI, Ormas), Partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan, Tingkat kenakalan remaja dan kriminalitas.
Keempat Ekonomi dan Kesejahteraan ditandai dengan Optimalisasi zakat, infak, dan wakaf (ZIW), Pengembangan ekonomi syariah, Kesejahteraan sosial berbasis agama (Program pengentasan kemiskinan religious) dan Kemandirian ekonomi umat.
Kelima Infrastruktur dan Lingkungan Religius dimana Sarana ibadah memadai dan terawat, Kebersihan dan ketertiban lingkungan, Ruang publik bernuansa moral dan etika, Penataan kota beridentitas religious.
Keenam Moralitas dan Akhlak Publik dimana Etika dalam pelayanan public, Budaya malu dan tanggung jawab sosial, Media publik beretika dan mendidik dan Peran tokoh agama dan masyarakat dalam pembinaan moral.
Isu kemiskinan-pengangguran dan religiusitas adalah menjadi renungan kita bersama dalam mengisi hari jadi Kota Tasikmalaya yang ke 24 agar tidak terjebak kepada euporia-kegembiraan dan ceremony semata tapi menjadi titik awal untuk Kota Tasikmalaya lebih maju dan berkah tentunya.
Selamat hari jadi Kota Tasikmalaya untuk KITA
Tasikmalaya, Jumat 10 Oktober 2025
U. heryanto, S.HI (Ketua Majlis Santri Bangsa)
Mahasiswa Pascasarjana Hukum Bisnis Unigal
Ketua IKAL LEMHANNAS Priangan Timur.

