SATU ABAD MUHAMMADIYAH DI SUMATERA BARAT (1925 – 2025) DAN GERAKAN PEMBARUAN DI MINANGKABAU

Oleh : Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat.

Sejarah Organisasi Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat.

Lahir, berdiri dan terbentuknya organisasi Perserikatan Muhammadiyah di Sumatera Barat berkaitan erat dengan gerakan pembaharuan yang lahir di Minangkabau pada awal abad ke-20. Majalah Al Manar yang terbit di Mesir disambut dengan sukacita oleh kaum pembaharu di Minangkabau dengan menerbitkan sebuah suluh atau lantera perjuangan di Padang yaitu Al-Munir.

Tokoh gerakan pembahuru yang terkemuka di Minangkabau antara lain : Haji Abdullah Ahmad di Padang, Haji Abdul Karim Amrullah di Padang Panjang, Syekh Muhammad Djamil Djambek di Bukittinggi dan Muhammad Thaib Sungayang. Gerakan para tokoh kita ini mengguncangkan para ulama yang berpandangan lama. Bukan hanya di Sumatera, tetapi juga sampai ke Sulawesi, Kalimantan, Bima, Sumbawa dan Jawa. Melalui Al Munir terjalinlah hubungan ide, gagasan dan pandangan antara pembaharu di Sumatera dan Jawa. Hubungan ini diperkuat oleh Serikat Islam yang pada tahun 1916 mulai mengembangkan sayapnya. Al-Munir mengirim utusan ke Jawa untuk menjalin hubungan yang lebih erat, utusan itu ialah Haji Abdul Karim Amrullah atau yang lazim disebut Inyik DE ER. Pertama kali beliau datang ke Jakarta, terus ke Bandung menemui Abdul Muis, pemimpin Serikat Islam. Dari Bandung terus ke Surabaya menemui Cokroaminoto yang juga merupakan tokoh Serikat Islam dan sewaktu pulang singgah di Yogyakarta. Kedatangannya di Yogyakarta disambut langsung oleh K. H. Ahmad Dahlan di Stasiun, karena kedua tokoh ini telah bersahabat di Makkah semasa belajar dengan Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwi. Hubungan keduanya lebih akrab, karena persamaan ide melalui Al-Munir yang majalah menjadi langganan Ahmad Dahlan.

Tokoh Pembaharu Membangkitkan IsIam Modern.

Pada tahun 1917 Haji Abdul Karim Amrullah melanjutkan perjalanan ke Aceh dan Tanah Melayu. Dari hasil perjalanan ke berbagai daerah dan wilayah ini, beliau mendapatkan semangat baru dalam membangun IsIam dari ketidurannya di Sumatera Timur, Aceh dan Malaya. Pada tahun 1918 beliau memerintahkan agar murid-muridnya mendirikan Sumatera Thawalib. Bersamaan dengan itu beliau bersama murid-murid menyusun rencana pembelajaran Sumatera Thawalib, diterbitkan pula majalah Al-Munir Al-Manar sebagai kelanjutan dari Al-Munir di Padang yang terhenti sejak tahun 1916. Al-Munir Al-Manar dipimpin oleh Zainuddin Labai El-Yunusi di Padang Panjang. Haji Abdul Karim Amrullah mengharapkan agar murid-muridnya menjadi para pembaharu membangkitkan semangat ke-Islaman yang modern.

Buya A.R. Sutan Mansur dan Inisiatif Mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Buya A.R. Sutan Mansur pernah diutus ke Kuala Simpang Pangkalan Berandan Sumatera Timur menjadi guru agama, hanya setahun lebih bertahan mengajar disitu jiwanya gelisah untuk melakukan pembaruan. Akhirnya beliau pulang ke Minangkabau dan pada tahun 1920 dia berangkat ke Jawa. Memilih kota Pekalongan sebagai tempat tinggalnya, ketika itu Muhammadiyah sedang giatnya melebarkan sayapnya keluar Yogyakarta. Pada suatu kesempatan datanglah K.H. Ahmad Dahlan ke Pekalongan mempropagandakan Perserikatan Muhammadiyah dan pada saat itu Buya A.R. Sutan Mansur tertarik dengan propaganda K.H. Ahmad Dahlan. Inisiatif untuk mendirikan Muhammadiyah di Sumatera Barat bermula dari beberapa orang Minangkabau di Pekalongan dan Yogyakarta. Di kedua kota ini orang Minangkabau bergaul dengan kaum Muhammadiyah, sehingga dari hari ke hari orang Minangkabau semakin memahami maksud dan tujuan Muhammadiyah dalam memajukan pengajaran dan kehidupan menurut petunjuk agama IsIam. Dengan tidak disangka pada bulan Sya’ban 1434 H/1925 M, Buya Abdul Karim Amrullah datang ke Pekalongan bertemu dengan sanak-saudaranya dari Sungai Batang, selama 20 hari di Pekalongan dibicarakanlah beliau maksud mendirikan Muhammadiyah di Minangkabau. Beliau terus ke Yogyakarta dan bertemu dengan Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Perantau Sungai Batang di Pekalongan dan Yogyakarta mengutus 3 orang ke kampung halaman mendirikan Perserikatan Muhammadiyah yaitu Datuk Majolelo dan Sutan Marajo dari Pekalongan serta Datuk Bareno dari Yogyakarta. Ke-tiga utusan ini berembuklah dengan perkumpulan Sendi Aman yang didirikan oleh Inyiak DE ER, akhirnya sepakat mendirikan Muhammadiyah di Sungai Batang dan sekaligus didirikanlah Sekolah. Pada tahun 1925 dua orang pemuda dari Padang Panjang diutus ke Jawa yaitu Sutan Mangkuto dan Datuk Sati dengan tujuan mempelajari pergerakan yang ada di Jawa. Kedatangan mereka bertepatan dengan Kongres IsIam di Yogyakarta, tempat kedudukan Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan setelah Kongres selesai mereka pulang ke Sumatera Barat. Pada bulan Juni 1926 berdirilah Muhammadiyah di Padang Panjang.

Perkembangan Pergerakan Perserikatan Muhammadiyah di Sumatera Barat.

Kemajuan pergerakan Muhammadiyah di Sumatera Barat, mengalami pasang dan surut, terkadang mengalami lompatan, percepatan dan dinamika yang mencerahkan dan menggembirakan, namun tidak dapat dihindari sebagai sebuah organisasi juga mengalami kemunduran, statis dan tanpa ada pergerakan sehingga cenderung stagnan. Diawal berdirinya Muhammadiyah di Sumatera Barat mendapat perhatian, empati dan dukungan masyarakat, sehingga banyak orang mendaftarkan diri menjadi anggota Muhammadiyah. Di Maninjau saja ada 1.400 orang anggotanya dan di Padang Panjang anggotanya ada 2.224 orang anggota.

Kemajuan pergerakan Muhammadiyah di Sumatera Barat sejak berdirinya sampai dengan masa kedatangan Jepang amat pesat, membanggakan dan menyenangkan hati, sehingga Ranang Minang mendapat julukan ” Muhammadiyah lahir di Yogyakarta dan berkembang di Minangkabau “. Baru tiga tahun berdirinya yaitu tahun 1928 K.H. Yunus Anis diutus oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadiri Konferensi Muhammadiyah di Bukittinggi (Konfrensi ke-3). Se tahun sesudah itu dilaksanakan pula Konfrensi Ke-4 di Simabur Batusangkar, diantara tema yang dibicarakan adalah persiapan penyelenggaraan Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi (Fort de Kock) yang akan diadakan pada tanggal 12 – 21 Maret 1930. Kesediaan warga Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat menerima tamu peserta Kongres yang berdatangan dari berbagai penjuru, suatu pertanda bahwa warga Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat memiliki potensi yang hebat, potensi yang luar biasa kuat, padahal Muhammadiyah Sumatera Barat baru berdiri lima tahun. Hal ini tidak terlepas dari kondisi menjelang Kongres diadakan yaitu sejak tahun 1929 berbagai lembaga pendidikan didirikan seperti Tabligh School, Bustanul Athfal, HIS, Tsanawiyah, Kulliyatul Muballighin, Kulliyatul Mubalighat dan Amal Usaha Muhammadiyah lainnya yang terlihat masih ada saat ini. Alumni Pendidikannya, khususnya Kauman Padang Panjang banyak melahirkan Ulama, kader mubaligh dan guru-guru yang tersebar ke mana-mana terutama di kawasan Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi, sehingga lahir pula ungkapan “Muhammadiyah lahir di Kauman Yogya dan berkembang di Kauman Padang Panjang”.

Antara Kemajuan dan Kemunduran Muhammadiyah Sumatera Barat.

Keberhasilan atau kemajuan Muhammadiyah Sumatera Barat dapat kita lihat dengan keberhasilan tokoh-tokoh Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat mengelola Muhammadiyah, sehingga sebagian Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat terpilih sebagai tokoh nasional seperti Buya A.R. Sutan Mansoer mantan Ketua Pimpinan Wilayah Sumatera Barat ditunjuk oleh Muktamar Tahun 1953 menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Buya Prof. Dr. Hamka juga mantan Ketua Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat diangkat menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia dan Buya H. Malik Ahmad pada akhir hayatnya juga dipercaya menjadi Anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Masa Stagnan dan Kemunduran Pergerakan Muhammadiyah Sumatera Barat.

Pergerakan Muhammadiyah di Sumatera Barat sebagaimana disampaikan diatas, bahwa pergerakan suatu organisasi terkadang mengalami percepatan, terkadang jalan di tempat atau stagnan dan terkadang mengalami kemunduran. Setelah terjadi peristiwa Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tahun 1958, situasi Sumatera Barat mengalami perubahan total karena hubungan Pusat dengan Daerah terputus. Kekacauan terjadi dimana-mana, kegiatan sosial, ekonomi dan pendidikan mengalami kemacetan. Konflik antara penduduk berpaham komunis dengan kita orang yang beragama tidak dapat dihindari, korban berjatuhan dan Muhammadiyah sebagai organisasi yang sudah besar di Sumatera Barat ikut menanggung resikonya atau dampaknya. Organisasi Muhammadiyah Sumatera Barat bersama amal usahanya tidak berfungsi lagi. Tokoh-tokoh Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat sebagian besar terpaksa hijrah ke daerah lain di luar Sumatera Barat. Krisis semakin memuncak sampai terjadinya pemberontakan kaum komunis dengan Gerakan 30 September 1965. Setelah Partai Komunis di tumpas, maka keamanan mulai pulih kembali, sebagian Pimpinan Perserikatan Muhammadiyah Sumatera Barat yang menyingkir keluar daerah lain sebagainya kembali ke kampung halaman. Begitu juga sebagian Pemuda Muhammadiyah yang semasa pergolakan menuntut ilmu di pulau Jawa pulang kampung ke Sumatera Barat dan bertugas di Sumatera Barat. Akhirnya Muhammadiyah Sumatera Barat mulai berbenah diri kembali dan menghidupkan lagi berbagai Amal Usaha Muhammadiyah Sumatera Barat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *