Hari Kartini Bukan Sekadar Memperingati

Oleh: Hendri Gunawan

Peringatan Hari Kartini setiap 21 April kerap berlangsung meriah. Namun di balik kemeriahan itu, ada pertanyaan mendasar yang jarang dijawab dengan jujur: apakah semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini benar-benar telah menjadi fondasi kebijakan dan arah pembangunan bangsa?

Kartini memperjuangkan akses pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan peran perempuan. Gagasannya yang tertuang dalam Habis Gelap Terbitlah Terang jelas menunjukkan bahwa emansipasi bukan slogan, melainkan perubahan sistemik.Namun realitas hari ini menunjukkan ironi. Ketimpangan gender masih nyata. Kasus kekerasan terhadap perempuan belum menunjukkan penurunan signifikan. Akses terhadap pendidikan dan ekonomi yang setara masih menjadi tantangan, terutama di daerah-daerah pinggiran.Lebih jauh, kebijakan publik sering kali belum sepenuhnya sensitif gender. Program pemberdayaan perempuan kerap berhenti pada tataran seremonial dan administratif, tanpa menyentuh akar persoalan: struktur sosial, budaya, dan ekonomi yang masih bias.Di sinilah peringatan Hari Kartini perlu dikritisi. Negara tidak cukup hanya mengingat Kartini, tetapi harus berani meneladani semangatnya—yakni keberanian untuk mengoreksi sistem yang tidak adil.Kartini adalah simbol keberanian melawan status quo. Maka menghormatinya berarti melanjutkan kritiknya—bukan sekadar merayakannya.Sudah saatnya Hari Kartini dijadikan momentum evaluasi nasional:
Apakah kebijakan yang ada benar-benar membuka ruang setara?
Apakah perempuan telah menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek program?Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu masih belum memuaskan, maka sesungguhnya kita belum sepenuhnya memahami Kartini.Hari Kartini bukan sekadar seremoni.
Ia adalah cermin—yang memaksa bangsa ini melihat dirinya sendiri, dengan jujur dan tanpa hiasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *