H. Arisal Azis: Ketika Politik Bukan Alat, Melainkan Jalan Pengabdian

Oleh: Hendri Gunawan
Ketua Media Center DPW PAN Sumbar
Wasekwil DPW PAN Sumbar

Amanatnews.com

Di tengah wajah politik yang kerap identik dengan transaksi kepentingan, kehadiran H. Arisal Azis menghadirkan anomali yang sulit diabaikan.

Saat banyak orang menjadikan politik sebagai tangga menuju akumulasi kekuasaan dan kekayaan, Arisal Azis justru datang dari arah sebaliknya: ia telah mapan secara ekonomi, lalu memilih politik sebagai ruang pengabdian.

Langkah ini bukan kosmetik elektoral. Jejaknya bisa ditarik jauh sebelum ia masuk gelanggang politik pada 2024. Sejak 2011, pria yang akrab disapa Josal ini telah membangun fondasi gerakan sosial yang tidak bergantung pada momentum politik lima tahunan.

Sebagai pengusaha di sektor logistik dan kargo, ia tumbuh dari kerja keras, bukan dari privilese politik. Namun, yang membuatnya berbeda bukan sekadar latar belakang itu, melainkan keberanian mengambil posisi: mengalokasikan 60 persen saham perusahaannya untuk anak yatim-piatu.

Di tengah budaya kapital yang cenderung akumulatif, keputusan ini bukan hanya tidak lazim—tetapi juga menjadi pernyataan politik itu sendiri.

Di titik inilah Arisal Azis mematahkan satu asumsi lama: bahwa kekuatan ekonomi selalu menjadi tujuan politik. Pada dirinya, justru sebaliknya—kekuatan ekonomi dijadikan instrumen untuk memperluas manfaat sosial.

Ia tidak membangun kekuasaan untuk memperbesar aset, tetapi menggunakan aset untuk memperkuat makna kekuasaan.

Sebagai anggota DPR RI dari Fraksi PAN yang dipercaya rakyat Sumatera Barat, Arisal Azis tidak menunjukkan gejala umum politisi baru: euforia jabatan, inflasi retorika, atau pencitraan berlebih. Ia memilih bekerja dalam senyap, tanpa kegaduhan yang artifisial.

Konsistensi ini menjadi variabel penting di tengah krisis kepercayaan publik terhadap politik. Sebab, publik hari ini tidak lagi mudah diyakinkan oleh narasi—mereka menuntut rekam jejak.

Dan di titik itulah Arisal Azis relatif memiliki pijakan: ada kesinambungan antara apa yang dikatakan, dilakukan, dan diperjuangkan.

Tentu, tidak ada aktor politik yang steril dari kritik. Namun, dalam lanskap politik yang semakin pragmatis, kehadiran figur dengan orientasi distribusi nilai menjadi relevan untuk dicatat.

Arisal Azis, dengan segala keterbatasan dan kelebihannya, menunjukkan bahwa politik tidak selalu harus bising untuk berdampak. Bahwa pengabdian tidak selalu membutuhkan panggung besar, tetapi membutuhkan konsistensi yang panjang.

Pada akhirnya, politik memang bisa menjadi apa saja: alat transaksi, instrumen kekuasaan, atau sekadar panggung citra. Namun, dalam kasus tertentu, politik juga bisa kembali ke makna dasarnya—sebagai jalan pengabdian.

Dan di titik itulah, Arisal Azis sedang menguji kemungkinan tersebut di hadapan publik. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *