Ridwan Dt. Tumbijo Tinjau Langsung Dampak Galodo di Sungai Asam, 78 Rumah dan 25 Hektare Sawah Terdampak

Amanatnews – Tanjung Raya, 2 Desember 2025 — Bencana galodo dan longsor kembali melanda wilayah Kecamatan Tanjung Raya, tepatnya di aliran Sungai Asam, Jorong Pasar Rabaa, Nagari Koto Kaciak. Intensitas hujan yang tinggi sepanjang beberapa hari terakhir menyebabkan sungai meluap dan menyeret material batu, kayu, serta lumpur ke pemukiman warga.

Untuk memastikan kondisi lapangan, Anggota DPRD Sumatra Barat, Ridwan Dt. Tumbijo, turun langsung meninjau lokasi terdampak pada Selasa sore. Ia mendatangi beberapa titik terparah, melihat rumah-rumah yang rusak, serta berdialog dengan masyarakat yang sejak pagi berupaya membersihkan sisa material galodo dari kediaman mereka.

Dari peninjauan tersebut diketahui sebanyak 78 rumah terdampak, dengan kondisi bervariasi mulai dari rusak ringan hingga berat. Banyak rumah dipenuhi lumpur setinggi lutut, sementara beberapa lainnya mengalami keretakan karena tekanan material longsor. Warga mengatakan peristiwa terjadi sangat cepat, sehingga sebagian hanya sempat menyelamatkan diri tanpa membawa barang penting.

Selain pemukiman, galodo juga merusak sektor pertanian. Ridwan mencatat bahwa lebih dari 25 hektare lahan sawah masyarakat terkubur material batu, lumpur, serta potongan kayu, membuat petani khawatir kehilangan penghasilan pada musim panen mendatang. Lahan yang biasanya hijau kini berubah menjadi hamparan lumpur yang sulit dibersihkan tanpa bantuan alat berat.

Dalam keterangannya kepada warga dan aparat setempat, Ridwan Dt. Tumbijo menegaskan perlunya penanganan cepat dan terkoordinasi. Ia menyebut bahwa pembersihan material besar, normalisasi aliran sungai, serta mitigasi di titik rawan harus menjadi prioritas utama untuk mencegah kejadian serupa. Dengan curah hujan yang masih tinggi, risiko galodo susulan tidak bisa diabaikan.

Ridwan juga meminta pemerintah nagari dan BPBD melakukan pendataan kerusakan secara detail agar bantuan yang disalurkan tepat sasaran. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak boleh dibiarkan menanggung beban sendiri. “Kita harus bergerak cepat. Saat ini keselamatan warga dan pemulihan tempat tinggal harus didahulukan,” ujarnya di lokasi.

Warga menyambut baik kunjungan tersebut dan berharap adanya tindak lanjut berupa bantuan logistik, alat berat untuk pembersihan sungai, serta perhatian khusus terhadap lahan sawah yang rusak parah.

Hingga kini, kawasan Sungai Asam masih dalam tahap pembersihan material. Bencana ini kembali menjadi pengingat bahwa wilayah perbukitan di Sumbar sangat rentan terhadap banjir bandang dan longsor. Upaya mitigasi, penguatan tebing, serta peningkatan sistem peringatan dini dinilai penting untuk melindungi masyarakat dari ancaman bencana di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *