3 Juli 1922 – 3 Juli 2026
Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H
(Alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta Angkatan 1982)
Memaknai 104 Tahun Perjalanan
Tanggal 3 Juli 1922 merupakan tonggak lahirnya Perguruan Nasional Tamansiswa yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara. Tepat 104 tahun kemudian, pada 3 Juli 2026, peringatan ini tidak hanya menjadi momentum merayakan usia, tetapi juga saat yang tepat untuk menguji daya hidup cita-cita Tamansiswa: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.
Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS) merupakan simpul yang menghubungkan alumni, guru, pamong, dan para simpatisan Tamansiswa. Memasuki usia ke-104 tahun, PKBTS menghadapi tantangan yang sama dengan semangat zamannya, yakni bagaimana menjaga relevansi organisasi tanpa kehilangan jati diri dan ruh perjuangannya. Jawaban atas tantangan tersebut adalah revitalisasi organisasi.
Mengapa PKBTS Perlu Direvitalisasi?
1. Perubahan Generasi
Generasi pendiri dan generasi tua Tamansiswa semakin berkurang. Sementara itu, Generasi Z dan Alpha sebagai penerus memiliki cara berpikir, berkomunikasi, dan berkarya yang berbeda. Struktur organisasi yang kaku berpotensi kehilangan kader dan tidak mampu menarik minat generasi muda untuk berpartisipasi.
2. Tantangan Zaman
Pendidikan Indonesia saat ini menghadapi tantangan digitalisasi, komersialisasi pendidikan, dan krisis karakter. Semangat Tamansiswa sebagai “sekolah perjuangan” dan “sekolah kebudayaan” justru semakin dibutuhkan. Namun, nilai-nilai tersebut harus diterjemahkan ke dalam bahasa dan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
3. Konsolidasi Kekuatan
Setelah 104 tahun, jejaring Tamansiswa telah tersebar di berbagai daerah dan profesi. Tanpa organisasi yang kuat dan terintegrasi, potensi besar tersebut akan berjalan sendiri-sendiri. PKBTS harus menjadi rumah bersama yang mempersatukan, bukan memisahkan.
Tiga Pilar Revitalisasi PKBTS
Pilar Pertama: Revitalisasi Ideologi dan Narasi
PKBTS perlu kembali kepada khittah perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan tafsir yang kontekstual dan kekinian.
- Humanisme, menegaskan pendidikan yang memerdekakan manusia, bukan sekadar mencetak tenaga kerja atau robot.
- Kebudayaan, menghidupkan kembali seni, bahasa, dan nilai-nilai lokal sebagai fondasi pendidikan.
- Kemandirian, memperkuat sekolah dan warga Tamansiswa agar tidak sepenuhnya bergantung kepada negara maupun mekanisme pasar.
Pilar Kedua: Revitalisasi Struktur dan Kaderisasi
Organisasi harus bertransformasi secara modern dan profesional.
- Digitalisasi organisasi, melalui pembangunan database anggota, forum alumni daring, serta sistem komunikasi yang cepat dan terbuka.
- Kaderisasi lintas generasi, dengan menghadirkan pola mentoring antara sesepuh, senior, dan generasi muda.
- Profesionalisme pengurus, melalui pembagian tugas yang jelas dalam bidang pengabdian, pendidikan, ekonomi kreatif, dan advokasi kebijakan.
Pilar Ketiga: Revitalisasi Peran Sosial
PKBTS tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial semata.
- Menjadi rumah gagasan pendidikan yang melahirkan pemikiran dan kritik konstruktif terhadap kebijakan pendidikan nasional.
- Membangun jejaring pengabdian melalui beasiswa, sekolah gratis, pelatihan guru, dan pendampingan masyarakat.
- Mengembangkan ekonomi gotong royong melalui koperasi, penguatan UMKM warga Tamansiswa, dan pembentukan dana abadi organisasi.
Menyongsong 3 Juli 2026: Dari Peringatan Menjadi Gerakan
Usia 104 tahun bukan sekadar angka untuk dirayakan, melainkan momentum untuk bergerak dan melakukan pembaruan.
Pertama, diperlukan Konsolidasi Nasional PKBTS yang mempertemukan seluruh keluarga besar Tamansiswa guna menyusun “Peta Jalan 104-150 Tahun Tamansiswa”.
Kedua, melaksanakan aksi publik melalui festival budaya, kongres pendidikan alternatif, dan peluncuran karya tulis kolektif warga Tamansiswa.
Ketiga, mewujudkan warisan digital berupa pengarsipan pemikiran Ki Hajar Dewantara, dokumen sejarah, serta kurikulum Tamansiswa yang dapat diakses secara terbuka oleh masyarakat.
Merawat Api, Bukan Hanya Abunya
Ki Hajar Dewantara mendirikan Tamansiswa pada masa penjajahan dengan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan menuju kemerdekaan. Seratus empat tahun kemudian, bentuk penjajahan memang berubah, tetapi tantangan terhadap kemerdekaan berpikir dan kemerdekaan manusia masih tetap ada.
Tugas PKBTS hari ini adalah menyalakan kembali api perjuangan tersebut. Revitalisasi bukan berarti meninggalkan nilai lama, melainkan cara paling setia untuk meneruskan dan menghidupkannya kembali.
Jika Tamansiswa diibaratkan sebagai garden of students, maka PKBTS adalah para tukang kebunnya. Menuju usia ke-104 tahun, marilah kita memangkas yang kering, memupuk yang tumbuh, dan menanam bibit-bibit baru.
Sebab selama masih ada yang percaya bahwa anak adalah manusia merdeka, selama itu pula Tamansiswa akan tetap hidup dan relevan bagi Indonesia.

