Oleh: Advokat Ki Jal Atri Tanjung, S.Pd., S.H., M.H
Indonesia saat ini tengah menghadapi ujian berat. Berbagai persoalan bangsa dinilai semakin kompleks, terutama penyakit kronis berupa praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). Di tengah meningkatnya tuntutan publik terhadap pemerintahan yang bersih, rakyat tidak hanya membutuhkan janji, tetapi juga tindakan nyata yang tegas dan konsisten.
Dalam konteks tersebut, Advokat Ki Jal Atri Tanjung mengajak untuk kembali mengingat pemikiran Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hajar Dewantara, yang dikenal dengan “Teori Amputasi”. Dalam teori tersebut digambarkan bahwa apabila ada bagian tubuh yang terkena penyakit gangren dan berpotensi menular, maka bagian tersebut harus segera diamputasi agar tidak merusak keseluruhan tubuh.
Menurutnya, analogi tersebut relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Ia menilai bahwa praktik KKN yang terjadi di lingkungan birokrasi, terutama di lingkaran inti kekuasaan, berpotensi menimbulkan kerusakan yang lebih luas apabila tidak segera ditangani secara serius.
Karena itu, Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki mandat rakyat sekaligus keberanian untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh melalui penerapan “Teori Amputasi” secara konsisten.
Beberapa langkah yang dinilai perlu dilakukan antara lain:
1. Amputasi Orang
Mencopot dan menyingkirkan seluruh oknum di lingkaran kekuasaan yang terindikasi melakukan praktik korupsi tanpa pandang bulu. Penegakan hukum yang tegas dinilai penting untuk memberikan efek jera dan memulainya dari pusat kekuasaan.
2. Amputasi Sistem
Memangkas jalur birokrasi yang dianggap menjadi ruang tumbuhnya praktik KKN. Penyederhanaan perizinan, digitalisasi tata kelola anggaran, serta keterbukaan laporan keuangan kepada publik dipandang sebagai langkah strategis untuk mempersempit peluang terjadinya kolusi dan penyalahgunaan wewenang.
3. Amputasi Kultur
Mengakhiri budaya “asal bapak senang” dan menggantinya dengan budaya kerja berbasis meritokrasi, profesionalisme, serta integritas. Lingkaran inti pemerintahan diharapkan diisi oleh figur-figur yang memiliki rekam jejak baik dan kredibilitas yang teruji, bukan semata-mata karena faktor kedekatan.
Ki Jal Atri Tanjung juga mengutip firman Allah SWT dalam QS Fussilat ayat 30 yang berbunyi:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka tetap istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka seraya berkata, ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah bersedih hati; bergembiralah dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.'”
Menurutnya, istiqamah dalam upaya membersihkan pemerintahan merupakan bentuk konsistensi yang sangat diperlukan dalam mewujudkan tata kelola negara yang bersih dan berkeadilan.
“Wahai Bapak Presiden Prabowo, sejarah menanti ketegasan Bapak. Laksanakan Teori Amputasi Ki Hajar Dewantara. Bersihkan lingkaran inti kekuasaan dan selamatkan Indonesia sebelum penyakit KKN semakin menggerogoti tubuh bangsa,” demikian seruan yang disampaikan Ki Jal Atri Tanjung.

